Tujuan penciptaan manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia
diciptakan untuk suatu tujuan yang sangat mulia yaitu untuk beribadah
kepadanya.
Tentunya sebagai orang yang arif dan cerdas kita akan menjawab,
itulah dia yang dinamakan denganwaktu, karena dia adalah kehidupan,
apabila dia habis, maka habislah kehidupan tersebut. Berikut ini ada
beberapa hal yang menjadikan pentingnya kita sebagai seorang muslim
untuk menjaga waktu.
Hal-hal yang menjadikan pentingnya menjaga waktu antara lain:
1. Waktu adalah modal yang lebih berharga dari Harta
Sesungguhnya
modal utama seorang muslim dalam hidup ini adalah waktu, karena di
situlah kehidupan manusia. Dia lebih berharga dari harta bahkan lebih
mahal nilainya dari harta. Hal ini dapat kita lihat bersama-sama ketika
seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, lalu dia meletakkan
seluruh kekayaannya supaya dengan harta tersebut umurnya bisa bertambah
satu hari, maka apakah yang dilakukannya tersebut mampu menambah umurnya
? Jawabannya tentulah tidak, karena ajal telah ditentukan. Pada saat
itu harta tidak lagi berguna, sehingga barulah kita menyadari betapa
pentingnya waktu tersebut ketika sakratul maut telah menjemput.
Semboyan orang-orang barat yang mengatakan waktu adalah uang
merupakan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, karena
waktu adalah ibadah, manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya
Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata mencari materil.
2. Begitu pentingnya waktu, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan waktu
Di
dalam Al-Qurân kita dapatkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala
sering bersumpah dengan waktu, seperti Allah ‘Azza wa Jalla
bersumpah dengan waktu malam, waktu Dhuha, waktu Ashar, bahkan di dalam
Surat al-‘Ashri Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat-sifat
orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan
beriman dan beramal shaleh sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebutkan dalam surat tersebut yang artinya:
“Demi masa (waktu ‘ashar). Sesungguhnya manusia berada dalam
keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan
mereka saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan
kesabaran.” (QS. al-‘Ashri: 1-3)
Syaikh Abdurrahman Nasir Sa’di rahimahullah di dalam menafsirkan ayat
tersebut berkata; bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan betapa
meruginya manusia dalam hidup ini secara umum kecuali apabila mereka
memiliki empat sifat:
Sifat pertama adalah beriman dengan apa-apa
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan, dan tidaklah Iman itu akan
bisa menjadi benar kecuali dengan Ilmu karena ilmu merupakan cabang dari
iman tersebut dan tidak sempurna iman seseorang kecuali jika dia
memiliki ilmu.
Sifat yang kedua adalah amal shaleh yang mencakup semua kebaikan,
mulai dari kebaikan yang bersifat zhohir hingga kebaikan yang bersifat
bathin, dimana hal itu berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak
hambanya baik hal-hal yang hukumnya bersifat wajib ataupun yang bersifat
anjuran.
Sifat yang ketiga adalah saling menasehati dengan kebenaran
tersebut (Iman dan amal shaleh) artinya saling mendorong sesama mereka
untuk saling menasehati.
Sifat yang yang keempat adalah saling
menasehati dengan sabar, bersabar dalam menta’ati Allah ‘Azza wa
Jalla, sabar dalam menghadapi maksiat dan sabar dengan ketentuan Allah
‘Azza wa Jalla atau dalam menghadapi musibah.
3. Karena waktu adalah nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak
Sebagaimana
yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam haditsnya: “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat
kecuali setelah ditanya tentang empat perkara: ditanyakan tentang
umurnya lalu bagaimana ia menggunakannya dan ditanyakan kepadanya
tentang ilmu yang didapatkannya lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu
tersebut, ditanyakan kepadanya tentang harta yang ia dapatkan dari mana
ia mendapatkannya dan kemana harta itu dibelanjakan dan ditanyakan
kepadanya tentang jasadnya lalu kemana dipergunakannya. (HR.Tirmidzi
yang telah dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Al-Jami’)
4.Waktu adalah salah satu ni’mat yang dianggap sepele dan dilalaikan oleh manusia
Dalam
hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada
dua ni’mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat
tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong.” (HR. al-Hakim yang telah
dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami’)
Hal ini dapat dirasakan seseorang ketika dia ditimpa oleh penyakit,
terasa baginya ketika itu betapa nikmatnya sehat, demikian juga ketika
waktu sudah sempit barulah teringat bagi seseorang nilai dari waktu,
sehingga ada ungkapan yang menyatakan baik atau buruknya sesuatu akan
bisa diketahui ketika ada lawannya, seperti sakit lawannya sehat, senang
lawannya susah, hidup lawannya mati.
sumber : http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/arsip/manfaat-waktu-dalam-kehidupan-seorang-muslim.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar